BeritaBlora

Ratusan Titik Irigasi di Blora Segera Direhabilitasi, Anggaran Rp38,22 Miliar Dikucurkan

×

Ratusan Titik Irigasi di Blora Segera Direhabilitasi, Anggaran Rp38,22 Miliar Dikucurkan

Sebarkan artikel ini
Rehabilitasi jaringan irigasi Kabupaten Blora tahun 2026. (Istimewa)

‎Blora,– Program rehabilitasi jaringan irigasi Kabupaten Blora pada tahun 2026 mulai merealisasikan. Total anggaran mencapai Rp38,22 miliar. Program yang melibatkan kelompok tani sebagai pelaksana tersebut, dilaksanakan melalui mekanisme swakelola tipe IV.

‎Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Blora, Surat, mengatakan, rehabilitasi akan dilaksanakan pada wilayah irigasi yang menjadi kewenangan Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Pemali Juana maupun wilayah irigasi Bengawan Solo, saat memberikan keterangan, Sabtu (11/7/2026).

‎Adapun wilayah irigasi Bengawan Solo itu sendiri, terdapat 28 Perkumpulan Petani Pemakai Air Irigasi (P3AI) yang tersebar di 20 desa di enam kecamatan, yakni Jiken, Randublatung, Jati, Kradenan, Kedungtuban, dan Cepu.

‎Sementara itu, di wilayah BBWS Pemali Juana, rehabilitasi akan menyasar 168 titik jaringan irigasi.

‎”Total perputaran uang mencapai sekitar Rp38,22 miliar. Dan masing-masing titik memperoleh alokasi anggaran sekitar Rp195 juta, termasuk untuk kebutuhan pelaksanaan pekerjaan,” ujar Surat.

‎Kemudian sebaran lokasi rehabilitasi paling banyak berada di Kecamatan Ngawen dengan 70 titik, Kecamatan Blora 26 titik, Jepon 21 titik, Todanan 16 titik, Banjarejo 11 titik, Kunduran 10 titik, Jiken dan Tunjungan masing-masing 4 titik, serta Bogorejo dan Japah masing-masing 3 titik.

‎Lebih lanjut Ia menambahkan, seluruh pekerjaan akan dilaksanakan melalui skema swakelola tipe IV, agar pola swakelola tidak hanya mempercepat pelaksanaan pembangunan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat karena melibatkan tenaga kerja lokal melalui sistem padat karya.

‎Kemudian dalam mekanismenya, dana program langsung disalurkan ke rekening kelompok tani. Selanjutnya, kelompok tani bertanggung jawab mengelola pembelian material sekaligus melaksanakan pekerjaan rehabilitasi di lapangan.

‎”Harapannya infrastruktur irigasi bisa berfungsi lebih baik untuk menunjang ketahanan pangan. Selain itu, karena dikerjakan secara padat karya oleh masyarakat, program ini juga membuka lapangan kerja dan membantu mengurangi pengangguran di masing-masing wilayah,” pungkasnya.

‎Program rehabilitasi tersebut diharapkan mampu meningkatkan jaringan irigasi, menjaga ketersediaan pasokan air bagi lahan pertanian, serta mendukung produktivitas sektor pertanian yang menjadi salah satu penopang utama perekonomian masyarakat. (ozi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *