Blora, Lintasmuria.com – Seni bagi Agus Priyadi atau yang akrab disapa Dedy (64), bukan sekadar urusan keindahan, melainkan cerminan jiwa dan perjalanan hidup. Perupa patung asal Kabupaten Blora, itu telah menekuni dunia seni sejak 1997 dan tetap konsisten berkarya hingga kini.
Lebih dari dua dekade menempuh jalan seni, Dedy telah melahirkan ribuan karya patung dengan berbagai ukuran dan detail yang menakjubkan. Karya-karyanya kini tersebar di berbagai daerah, bahkan menembus pasar internasional.
Beberapa karya monumentalnya antara lain patung kuda setinggi 2,5 meter dengan lebar 1,5 meter, serta patung harimau sepanjang 4 meter. Salah satu karya istimewanya, patung Kwantong setinggi 2,5 meter dengan lebar 180 sentimeter, pernah terjual di Jakarta dengan harga mencapai Rp700 juta hingga Rp1 miliar. Ia juga pernah membuat versi lain dari patung tersebut dengan tinggi dua meter.
Bagi Dedy, seni bukan sekadar profesi, melainkan jalan hidup. Ia meyakini bahwa kesuksesan karya terletak pada ketelitian dan kesabaran dalam proses.
“Kerjakan dengan hati, penuh penjiwaan, jangan asal-asalan. Seni adalah doa, seni adalah jalan hidup,” ujarnya, dikutip dari Antara, Minggu (5/10/2025)
Ia menuturkan, sekitar 80 persen keberhasilan sebuah karya ditentukan oleh detail, proses amplas, dan ketekunan. Setiap proses penciptaan juga ia awali dengan doa dan ritual sederhana sebagai bentuk penghormatan terhadap nilai spiritual dalam seni.
Dedy juga berpesan kepada generasi muda agar menjaga keseimbangan hidup dengan alam. Menurutnya, keserakahan hanya akan merusak tatanan kehidupan.
“Jangan sampai merusak alam. Kita hidup dari alam semesta, dari bumi yang kita pijak. Jangan serakah,” tegasnya.
Selain dikenal sebagai pematung, Dedy juga seorang pelukis. Namun, ekspresi seninya lebih banyak tertuang dalam bentuk pahatan. Ia menilai setiap seniman memiliki jalan masing-masing, dan patung menjadi jalur utamanya dalam berkarya.
Menariknya, Dedy merupakan kakak kandung Menteri Imigrasi dan Perlindungan Aparatur Sipil Negara (Imipas) Agus Andrianto. Meski begitu, ia tetap memegang prinsip hidup sederhana. Ia mengibaratkan kehidupan seperti laba-laba atau orong-orong — makhluk kecil yang tetap bisa bertahan dengan segala keterbatasan.
“Dulu, dengan gaji sebulan harus bisa cukup untuk tiga puluh hari. Dari situlah saya belajar membangun jaringan dengan kolektor, seniman, pecinta barang antik, komunitas jeep, bonsai, hingga dunia jual beli dan tukar tambah,” katanya.
Hasil karya Dedy kini telah dikenal hingga mancanegara. Patung-patungnya telah sampai ke Amerika Serikat, Eropa, Kanada, Selandia Baru, Belgia, dan Austria melalui tangan para kolektor.
Melalui ribuan karya yang ia hasilkan, Dedy ingin meninggalkan pesan bahwa seni tidak hanya untuk dinikmati secara visual, tetapi juga sebagai sarana edukasi, spiritualitas, dan refleksi hidup agar manusia tetap selaras dengan alam.
Saat ini, Dedy tengah menyelesaikan dua patung kuda berukuran tinggi 2,5 meter dan lebar 1,5 meter. Proses pengerjaan kedua patung tersebut telah mencapai sekitar 80 persen. (Red)













