Semarang injateng.id Anggota Komisi VII DPR RI Samuel Wattimena menilai bahwa kekayaan Indonesia terletak pada keberagaman motif dan seni kerajinan dari berbagai daerah. Menurutnya, keragaman etnik dan budaya yang tersebar di seluruh nusantara merupakan identitas sekaligus kekuatan bangsa dalam industri kreatif.
“Negara kita ini adalah negara kepulauan, bukan negara kontinental. Kelebihan kita justru ada pada keragaman etnik dan budaya,” ujar Samuel saat menghadiri Lomba Melukis Payung dan Kipas 2025 di Kota Semarang, Minggu (20/10).
Desainer sekaligus legislator ini menegaskan bahwa setiap daerah di Indonesia memiliki ciri khas dan nilai estetik tersendiri, sehingga tidak seharusnya dibatasi oleh tren global yang ditetapkan industri besar luar negeri.
“Kalau di luar negeri mereka membuat tren warna atau motif untuk kepentingan industri besar. Tapi Indonesia berbeda — setiap daerah punya kekuatan lokal. Itu titik puncak dari karya kreatif yang tidak boleh diseragamkan,” tegasnya.
Samuel juga mengapresiasi penyelenggaraan lomba melukis payung dan kipas sebagai upaya mengangkat identitas budaya Indonesia yang khas sebagai negara tropis. Menurutnya, dua benda tersebut bisa dikembangkan menjadi produk unggulan desa wisata.
“Kita sebagai negara tropis butuh kipas dan payung. Kalau hasil karya ini dipasarkan di desa-desa wisata, akan muncul beragam identitas unik dari masing-masing daerah. Ini potensi besar,” katanya.
Sementara itu, Koordinator Penyelenggara lomba, Teo Ruddy, menjelaskan bahwa kegiatan ini diinisiasi oleh Pemerintah Kota Semarang melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan sebagai upaya menggerakkan ekonomi kreatif berbasis budaya lokal.
“Dari lomba melukis kipas dan payung ini, kami ingin menumbuhkan nilai ekonomi kreatif serta memperkuat karakter desa wisata di Semarang,” jelasnya.
Lomba yang mengusung tema “Warak Ngendog” — ikon mitologi khas Kota Semarang — diikuti oleh 400 peserta, terdiri atas 200 peserta lomba lukis kipas dan 200 peserta lomba lukis payung, dari berbagai usia.
“Antusiasmenya luar biasa, tidak ada batasan usia dan gratis. Peserta membawa peralatan melukis sendiri, sementara kanvas berupa payung dan kipas disediakan oleh pemerintah kota,” terang Teo.
Penilaian karya didasarkan pada orisinalitas, kebersihan, dan kesesuaian tema yang menggambarkan keindahan destinasi wisata serta kekayaan budaya Semarang.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas lokal sekaligus membuka peluang ekonomi bagi pelaku seni,” pungkasnya.













